Etika mil ekstra

Etika mil ekstra

Shalom para sahabat dalam Kristus, selamat pagi. Apakah Anda pernah terpikir bagaimana sebaiknya "Etika Kerajaan Surga" bisa diterapkan di abad ke-21 ini?
Sepintas ini persoalan mudah tapi jika direnungkan ternyata tidak terlalu sederhana.
Sejauh yang saya pahami, Etika Kerajaan Surga sebagaimana yang kita baca dalam Keempat Injil, dapat disarikan menjadi 3 hal: a. Etika cintakasih, b. Etika transformatif, dan c. Etika mil ekstra.

Etika Cintakasih
Kiranya yang dimaksud dengan etika cintakasih cukup jelas. Jadi tidak perlu banyak penjelasan tambahan.
Dan yang saya maksud dengan etika transformatif, adalah bagaimana setiap respons kita dimaksudkan untuk mengusik hati nurani sesama agar mereka mau bertranformasi, misalnya: mengasihi musuh dan memberi pipi kanan jika yang ditampar pipi kiri. Ini pun sudah cukup jelas meski bukan berarti mudah dilakukan.

Etika Mil Ekstra
Lalu bagaimana dengan etika mil ekstra?
Ini merupakan ajakan Yesus untuk memberikan lebih dari yang diminta dari kita.
Ijinkan saya memberi 5 contoh ringkas, yang saya amati dalam beberapa hari terakhir:

a. Beberapa hari ini saya bepergian menggunakan kereta, ternyata kondisi secara umum bersih dan layanan baik, baik di dalam stasiun maupun kereta.
Jam berangkat dan kedatangan juga tepat waktu. Tidak heran bahwa kereta api kembali menjadi moda yang digemari karena bersih, aman dan nyaman; dan kabarnya setahun dapat melayani lebih dari 470 juta penumpang.

b. Ketika di Bandung, saya mencari laundry yang cepat, karena sore itu saya mesti pulang ke jawa tengah. Puji Tuhan, ada laundry ekspress yang bisa mengerjakan cucian dalam hitungan 3-4 jam. Tidak hanya itu, mereka juga menawarkan layanan ambil ke tempat saya menginap; ini contoh lain dari layanan mil ekstra. Ternyata siang hari, cucian saya betul sudah selesai.

c. Sebelum pulang, saya juga menyempatkan untuk melihat-lihat koleksi Museum Geologi Nasional di Jl. Diponegoro, Bandung. Kondisi sangat terawat meski museum ini sudah dikenal sejak jaman kolonial. Koleksi batuannya lumayan lengkap dan yang hebat tiket masuknya sangat terjangkau. Tidak heran museum ini banyak dikunjungi anak-anak sekolah.

d. Sehari sebelumnya, ketika saya naik kereta menuju Bandung, baru tersadar bahwa kabel charger saya tertinggal di salah satu hotel di jawa tengah. Lalu saya cari no HP hotel tersebut, dan minta tolong kabel tersebut agar disimpan. Ternyata staf hotel tidak hanya menyimpan kabel tersebut, namun ketika saya kembali, staf hotel dengan ramah menawarkan untuk mengantarkan kabel tersebut ke tempat saya. Ini contoh yang lain akan layanan mil ekstra.

e. Dan kemarin lusa, saya membaca bagaimana pak Presiden dan juga Ibu negara menyempatkan diri untuk mencoba sendiri kereta MRT yang baru beroperasi di Jakarta. Contoh yang lain lagi tentang etika mil ekstra.

Mungkin ini hal yang tidak luar biasa namun bagi banyak orang yang masih memimpikan transportasi pribadi, tentunya merupakan teladan yang sangat baik dari seorang pemimpin bahwa transportasi publik seperti MRT dan TransJakarta adalah pilihan yang aman, murah, bersih dan nyaman, meski kadang mesti rela berdesakan.
Tentu kita berharap bahwa secara berangsur masyarakat akan lebih menghargai dan menyukai transportasi umum seperti budaya di negara-negara maju. Misalnya di Jepang, banyak orang yang tiap pagi pulang-pergi kerja menggunakan kereta Shinkansen.

Penutup
Semoga artikel singkat ini berguna sebagai ilustrasi bahwa "etika mil ekstra" masih sangat relevan di abad 21 ini.
Jika dihubungkan dengan konsep pemasaran, mungkin tidak berlebihan jika dikatakan bahwa layanan pelanggan yang menerapkan "etika mil ekstra" akan membuat merk (brand) suatu perusahaan dapat menjadi "top of mind" - atau senantiasa melekat di benak pelanggan. Catatan: Ada beberapa buku pemasaran yang menekankan pendekatan non-konvensional yang bukan sekadar menggelontor dana besar untuk advertensi masif, di antaranya: Mike Schultz & John E. Doerr. Lihat (1).

Bagaimana dengan Anda?

Tuhan memberkati Anda sekalian.

Versi 1.0: 21 maret 2019, pk. 8.56
Versi 1.1: 21 maret 2019, pk. 15:51
VC

Bacaan:
(1) Mike Schultz & John E. Doerr. Professional Services Marketing. New Jersey, Wiley & Sons Inc, 2009. EBook version

Comments

Popular posts from this blog

Berkah di balik masalah: kisah Post-It Notes

Inovasi kategorikal

Inovasi model bisnis