Semangat ugahari dalam berteknologi: Antara AI, humanoid dan skenario Terminator


Semangat ugahari dalam berteknologi: Antara AI, humanoid dan skenario Terminator*

Oleh V. Christianto, pengamat teknologi. Email: vic104@hotmail.com

Salam sejahtera para pembaca,

Kemarin pagi, sebagai tanggapan atas artikel Prof Iwan Pranoto di harian Kompas, 23 desember 2019 lalu, penulis menyampaikan surel kepada dua orang gurubesar yang sangat penulis hormati: Prof Iwan Pranoto dan Prof Liek Wilardjo.
***
yth Pak Liek dan Prof Iwan Pranoto yang baik,

Mohon maaf belum sempat membaca artikel di K kemarin, namun ijinkan saya urun rembug sedikit tentang topik transhumanisme tsb:(7)

""
"...creatio continua, kita sebagai kokreatorNya juga harus terus-menerus memutakhirkan diri. Bukantah dengan imago Dei sebagai bekal/modal, kita diberiNya mandat kultural dominium terrae? Tapi jangan kebablasan dengan membangun Menara Babel.
GBU, LW ... "
""
Setuju sekali dengan pak Liek, memang di kalangan para futuris, ada yang begitu optimis akan masa depan manusia dengan berbagai teknologinya, seperti Peter Diamandis dengan "Abundance"-nya. Namun juga ada yang skeptis, meramalkan "dystopia," seperti George Orwell's 1984 dll.(4)

Pada hemat saya, tanggapan pak Liek sangat bijak: kita mesti lebih mengembangkan pandangan akan teknologi yang tidak terlalu optimis namun juga tidak pesimis, barangkali istilah yang tepat adalah: "tekno-realisme." (3)
Yang saya maksudkan begini: dengan banyaknya penelitian ttg robotika, humanoid dll, lalu muncul perkembangan ke arah transhumanisme dan human-perfection.  (Jika saya tidak salah menafsir judul artikel Prof Iwan tersebut.)
Memang sudah ada yang meramal bahwa AI akan berjalin dengan ilmu psikologi dan spiritual, sehingga dapat memunculkan AI/robotic yang berkesadaran. (8)
Namun seperti yang diungkapkan pak Liek, jangan-jangan kita jadi keblinger , lupa daratan membangun Menara babel.
Misalnya saja, tahun lalu kalau tidak salah para ahli robotika sedunia dibuat heboh karena ada laporan "tactical-robot" yang dikembangkan di salah satu lab di kampus di Korea Selatan. Maksudnya taktikal robot ini adalah robot yang dirancang untuk membunuh. Lalu Elon Musk dan lebih dari 2000 peneliti AI menggalang petisi ke PBB untuk menyetop semua penelitian ttg tactical robotic.(2)
Kira-kira itu kisah nyata yang saya ingat, meskipun saya juga tidak sedang meramalkan dunia akan menuju skenario film Terminator....Namun ada peluang kita menuju ke sana.
Pesan ortu-ortu kita dahulu, jangan terlalu gampang takjub dengan teknologi: ojo kagetan, ojo gumunan.

***
Bagaimana dengan demam AI?

Senada dengan hal tersebut, seorang professor matematika dari Kanada menulis pesan berikut ini beberapa hari lalu:
"I am appalled by the way how computer science damaged humanity. It has
been even worse than nuclear bombs. It destroyed the soul of humanity and
I have less than 0% interest in doing anything in this evil field.
Now something more destructive than data mining is coming up. Yes AI,
probabilistic AI. It says we don't know why but somehow it works. So we
started to have air plane malfunction because of the AI program failure."
Tentu Anda boleh tidak sependapat dengan ungkapan profesor matematika tersebut, namun kabarnya para karyawan Google juga menuntut aturan ketat agar AI dibebaskan dari persenjataan, atau disebut "weaponized AI" (1).
Simpulan sementara, perkembangan sains dan teknologi mempunyai segi positif dan negatif demikian juga dengan Robotics & AI. Meski sumbangan positifnya jelas sudah terasa, namun efek sampingnya terhadap segi spiritual dan mental; ini perlu disiapkan supaya manusia tetap bisa mengambil segi positifnya, misalnya perencana robot inteligens harus mempunyai kode etik : Robot inteligens tidak boleh menyakiti atau membunuh manusia, merampok bank dst.* Lihat misalnya (6).
***

Adakah contoh praktis sikap ugahari dalam berteknologi?
Kalau Anda senggang, bacalah berkala-berkala seputar industri di Jepang. Ada setidaknya 2 kosakata menarik yang layak dikaji: ikigai dan monozukuri.
Ikigai mungkin agak sering kita dengar, maksudnya: alasan kita bangun pagi, yang terdiri dari keseimbangan antara passion, work, profession dst.
Lalu apakah itu Monozukuri? Menurut Rachmat Gobel:
"Monozukuri merupakan kata dari bahasa Jepang yang berasal dari kata "mono" berarti produk atau barang dan  "zukuri" berarti proses pembuatan, penciptaan atau produksi.
“Namun, konsep ini memiliki implikasi yang jauh lebih luas daripada arti harfiahnya, dimana terdapat semangat kreatif dalam menghasilkan produk unggul serta kemampuan untuk terus menyempurnakan proses.. "(5)
Bagaimana penerapannya? Mari kita lihat 3 contoh sederhana:
a. Sushi: meski sekilas sederhana, sushi dirancang dengan cermat sehingga ukurannya pas sekali makan. Tidak lebih dan tidak kurang. Itulah kelebihan banyak inovasi yang khas Jepang, karena mereka memikirkan dengan hati hati mulai dari kegunaan, ukuran, nilai seni produk. Dst.
b. Toyota Avanza: coba Anda perhatikan, Toyota Avanza tidak terlalu besar dan tidak juga kecil. Tidak terlalu mahal tapi juga tidak murah. Intinya : pas. Karena itu jika suatu perusahaan ingin membeli mobil untuk antar jemput karyawan misalnya, salah satu pilihan adalah Avanza (ini bukan pesan sponsor dari TMMIN lho).
c. Kereta Shinkansen: keunikan kereta ini tidak hanya soal kecepatannya, namun juga tepat waktu. Bahkan kabarnya, jeda waktu antar rangkaian kereta kurang dari 5 menit. Dan semuanya ini dirancang oleh para insinyur railway Jepang bahkan sebelum ada komputer personal atau AI. Lalu bagaimana mereka merancang sistem yang rumit tersebut? Jawab: Mereka menggunakan teori kontrol dinamis ("dynamic control theory").

Penutup
Pada akhirnya, apresiasi dan salut untuk Prof Iwan Pranoto yang membahas topik aktual ini.
Tentu ini hanyalah komentar singkat akan suatu topik yang rumit yang perlu dikaji secara cermat dan berhati-hati.
Ijinkan penulis menutup artikel ini dengan mengutip  kalimat seorang bijak bestari berabad silam:

"Lihatlah, hanya ini yang kudapati: bahwa Allah telah menjadikan manusia yang jujur, tetapi mereka mencari banyak dalih."
(eng.: Lo, this only have I found, that God hath made man upright; but they have sought out many inventions.)

Selamat hari Natal buat Anda yang merayakannya, dan selamat menyongsong tahun baru 2020. Semoga tahun depan bukan robot yang akan menyalami Anda. Memang suatu paradoks besar di abad 21 ini: "robot-robot  semakin mahir meniru manusia, namun banyak manusia yang hidup seperti robot." - personal quote.

Bagaimana pendapat Anda?

Versi 1.0: 24 desember 2019 pk. 22.00
Versi 1.1: 25 desember 2019, pk. 0:56
Versi 1.2: 25 desember 2019, pk. 7.09
VC


Note:
* banyak terimakasih kepada Prof The Houw Liong yang telah bersedia membaca dan memberikan saran yang berharga.

Bacaan:
(1) Google employees demand AI rules to prevent weaponised AI. Url:
https://techsparx.com/blog/2018/06/google-employees.html
(2) Nina Werkhauser. Should killer robots be banned? URL: https://m.dw.com/en/should-killer-robots-be-banned/a-45237864
(3) Technorealism: the information glut. URL: https://cs.stanford.edu/people/eroberts/cs201/projects/1999-00/technorealism/glut.html
(4) George Orwell, 1984, a classic dystopian novel. URL : https://www.sparknotes.com/lit/1984/
(5) https://www.beritasatu.com/ekonomi/329837/ini-dia-konsep-monozukuri-yang-membuat-industri-jepang-sangat-maju
(6) ethical issues in robotics/AI. URL: https://www.weforum.org/agenda/2016/10/top-10-ethical-issues-in-artificial-intelligence/
(7) www.wired.com, URL: https://www.wired.com/story/the-responsibility-of-immortality/
(8) V. Christianto. "On Gödel's Incompleteness Theorem, Artificial Intelligence & Human Mind." SGJ. URL: https://scigod.com/index.php/sgj/article/view/286

Comments

Popular posts from this blog

Waste to energy: dari Pegadaian ke PLTSa

PostScript: tanggapan seorang Ibu

Berkah di balik masalah: kisah Post-It Notes