Dalil Murphy dan "Requirement engineering"


Dalil Murphy dan "Requirement engineering"

Selamat pagi para pembaca,

Sebagian besar dari Anda tentu pernah mendengar tentang dalil Murphy (atau lebih dikenal Murphy law), yang mengatakan: "apa saja yang bisa keliru suatu kali akan keliru beneran." Atau dalam bahasa perancangan, kalimat tersebut kira-kira menjadi "rancanglah sesuatu sedemikian sehingga fail-proof dan fool-proof."
Hal ini merupakan salah satu prinsip desain yang perlu diingat oleh siapa saja yang merancang produk.
Satu contoh penerapan dalil Murphy ini: jika Anda sedang mengembangkan usaha mainan anak-anak, maka selain soal desain mainan, setidaknya ada 2 hal lain yang perlu diperhatikan: (a) hindari menggunakan cat yang berbahan toxic, (b) hindarkan sudut-sudut tajam. Penjelasannya adalah bahwa anak-anak kecil kadang menggigit-gigit mainan mereka, tentu kita tidak ingin mereka keracunan. Alasan yang kedua adalah kita tidak ingin sudut-sudut tajam itu akan melukai para pengguna mainan tersebut.

Requirement error
Namun ternyata ada kemungkinan lain yang jauh lebih buruk dari dalil Murphy tersebut, yaitu yang dikenal sebagai "requirement error."
Memang pengembangan produk apapun dapat menjadi bencana serius bagi inisiatornya jika tidak mengantisipasi kesalahan dalam requirement (requirement error.)
Bahkan salah satu studi menyebutkan:
"And, as Ralph Rowland Young notes in The Requirements Engineering Handbook, 
“Errors that originate in requirements tend to be the most expensive and troublesome to eliminate later.” Put even more simply: “More than half of all defects can be traced to requirements errors.”(1)

Kesimpulan sederhananya adalah lebih dari separuh "defect" (kegagalan produk) dapat ditelusuri ke kesalahan dalam requirement. Suatu laporan statistik bahkan menunjukkan biaya akibat requirement error ini mencapai nilai sekitar 30 milyar dolar AS per tahun, di Amerika saja. (2)

Kisah pulpen NASA
Ada contoh yang agak pas untuk tema ini, dan kisah ini menarik meski sudah kerap dibahas dalam sesi sesi pelatihan inovasi.
Alkisah, tim peneliti NASA diberi tugas untuk mengembangkan pulpen yang tetap dapat digunakan menulis pada kondisi bebas gravitasi. Kita semua tahu bahwa pulpen mengandalkan gaya gravitasi untuk membuat tinta menetes ke ujung pulpen. Jadi tugas tersebut tidak mudah.
Kabarnya, setelah para peneliti NASA tersebut menghabiskan sepuluh tahun dan lebih dari 12 juta dolar, akhirnya mereka berhasil mengembangkan pulpen yang bisa bekerja dalam kondisi bebas gravitasi, terbalik, dalam kristal dan seterusnya. (3)
Lalu mereka mendengar kabar bahwa rekan-rekan mereka, para kosmonot Rusia telah menemukan jawaban jitu atas problem tersebut.
Apakah itu solusi para kosmonot Rusia? Jawab: Pensil.

Penutup 

‌Pepatah lama bahwa "merumuskan masalah dengan tepat sudah separo jalan menuju pemecahannya," masih sangat relevan.
Selain itu juga untuk mengantisipasi dalil Murphy, seorang perancang atau inovator produk mesti mempertimbangkan kesalahan dalam requirement, untuk menghindarkan proses perbaikan yang kerap jauh lebih rumit.
Semoga kisah di atas berguna bagi pembaca sekalian, dan terutama bagi Anda yang sedang mengembangkan produk baru baik untuk UMKM atau usaha menengah. Selamat berinovasi.

Bagaimana pendapat Anda?

Versi 1.0: 1 Desember 2019, pk. 14:06
Versi 1.1: 2 Desember 2019, pk. 7:28
Versi 1.2: 3 januari 2020, pk. 20:27
Versi 1.3: 9 januari 2020, pk. 8:09

---

Postscript: contoh penerapan

Untuk melengkapi diskusi mengenai requirement engineering, kita dapat bertanya misalnya: "apakah requirement drainase perkotaan yang baik?"
Berikut adalah komentar seorang sahabat lama akan problem drainase khususnya di DKI Jakarta:

"Dibikin logika sederhana aja, mau naturalisasi atau normalisasi tujuannya sama saja yaitu mengendalikan banjir jakarta. Secara hukum alam air di daratan akan mengalir ke laut karena laut pasti lebuh rendah dari daratan. Penyebab banjir adalah banyaknya air run off yang tidak dapat ditampung oleh tampungan alam (sungai, danau, situ, embung dll) sebelum sampai ke laut. mampetnya drainase-drainase permukiman adalah penyebab adanya banjir lokal.
Secara teori sederhana yang harus dilakukan adalah:
1. Meminimalkan aliran permukaan (run off), baik secara struktural ataupun non struktural. Zero run off.
Penataan kawasan hulu untuk menahan sebanyak mungkin air di bagian hulu dengan memperbanyak tutup lahan dg reboisasi dll di DAS. Pengaturan jenis tanaman pada kemiringan lahan tertentu, ini di daerah sekitar sungai ditanami tanaman musiman, tanah digemburkan saat hujan terbawa semua itu sedimentasi ke sungai.
Memperbanyak bio pori dll, sungai danau, embung dll bukan tempat sampah.
Kondisi sekarang sebagian besar tanah yang harusnya dapat meresapkan air sudah banyak dibeton, diaspal dll. Semua air mau lari kemana lagi kalau tidak ke selokan, sungai dll. Beban sungai semakin berat.
2. Nah kalau zero run off sudah berjalan artinya tampungan air seperti sungai, situ, embung dll akan menerima beban air semakin sedikit. Saat air sampai di jakarta dipompa ke laut saat muka air laut pasang, kalau surut ya akan mengalir dengan sendirinya.
3. Pembangunan struktural dilakukan dengan normalisasi tampungan2 air alam dan membuat waduk-waduk.
Sederhana tetapi masih sulit untuk dilaksanakan. Seluruh elemen bangsa harus satu visi dan misi baik pemerintah, pemda terutama masyarakat dan pengusaha dalam  memanfaatkan sempadan sungai dll, membuang sampah, limbah dll."

Bagaimana pendapat Anda?

Comments

Popular posts from this blog

Waste to energy: dari Pegadaian ke PLTSa

PostScript: tanggapan seorang Ibu

Berkah di balik masalah: kisah Post-It Notes