Paradoks Easterlin: Growth or Happiness


Paradoks Easterlin: Growth or Happiness

Kebahagiaan memang merupakan tema abadi, yang selalu relevan melintasi zaman dan lokasi. Dalam dekade belakangan ini, Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (Organization for Economic Cooperation and Development/OECD) telah merilis indeks untuk mengukur kebahagiaan masyarakat di sebuah kawasan, atau sebuah negara. Indeks kebahagiaan (dan kesejahteraan, well-being) ini mencakup 11 aspek kehidupan manusia, mulai dari pendapatan sampai tingkat kepuasan hidup (life satisfaction). Bahkan, kebahagiaan tidak selalu berhubungan dengan GDP, growth, atau pergerakan pasar saham. Ini dikenal sebagai paradoks Easterlin.



Quote:


Follow Follow @AOC 

Economics 101 reminder: The stock market is NOT the economy. Stocks aren’t jobs. Stocks aren’t wages. That’s why stock prices can go up and normal people still won’t feel any more secure about their future. Recessions are when real GDP growth falls for 2 quarters in a row.



Suatu pepatah mengatakan: Little is needed to make a happy life; it is all within yourself, in your way of thinking.”

Benarkah demikian? Lalu apa yang dimaksud dengan paradoks Easterlin? Terlebih dahulu mari kita telisik mengenai akutnya ketergantungan kita akan GDP, growth dll





 .
Ketergantungan pada angka-angka (1)

Angka-angka dalam indikator ekonomi memang kerap menjadi tolak ukur bagi kesuksesan ekonomi dan kebijakan di suatu negara. Meminjam istilah Fareed Zakaria, tampaknya terjadi hegemoni intelektual sehingga indikator ekonomi menjadi tolak ukur utama yang digunakan di seluruh dunia.

Perlu diakui, bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang bisa dianggap benar-benar salah. Akan tetapi, krisis demi krisis yang terjadi menggambarkan bahwa angka-angka seperti itu bisa saja salah. Hal ini diungkapkan misalnya oleh Lorenzo Fioramonti. Ia menyoroti secara khusus terkait angka Produk Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Product (GDP).


Menurut Fioramonti, kenaikan PDB kerap kali tidak sejalan dengan kenaikan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Merujuk pada pendapat tersebut, kenaikan PDB boleh jadi ternyata tidak bisa sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat.

Idealnya, ketika pertumbuhan ekonomi naik, maka kebahagiaan dan kepuasan masyarakat juga ikut naik. Akan tetapi, hal tersebut nyatanya tidak selalu terjadi. Fenomena ini digambarkan oleh Richard Easterlin melalui pandangannya, yang dikenal sebagai Easterlin paradox atau paradoks Easterlin.

Paradoks Easterlin (1)
Easterlin menggambarkan bahwa seiring waktu, kebahagiaan masyarakat tidak memiliki tren naik manakala pertumbuhan ekonomi mengalami kenaikan. Ia menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi tidak menjadi ukuran dari kebahagiaan masyarakat.

Penting untuk dilihat bahwa aspek kebahagiaan dan kepuasan yang dimaksud dalam konteks ini adalah subjective well-being atau kesejahteraan subyektif. Berdasarkan hal tersebut, unsur yang dapat digunakan untuk mengukurnya meliputi kebahagiaan, kepuasan hidup dan tingkat kehidupan.

Salah satu gambaran paling nyata yang digunakan oleh Easterlin adalah ketika ia menyoroti pertumbuhan ekonomi yang dialami Tiongkok. Selama dua dekade, angka PDB di negara tersebut mengalami kenaikan yang cukup drastis, akan tetapi kepuasan hidup masyarakat nyatanya tidak ikut terangkat.

Baik Fioramonti maupun Easterlin tampak hanya menyoroti perkara pertumbuhan ekonomi yang terkait dengan PDB saja. Akan tetapi, jika melihat banyak fenomena yang ada, sebenarnya angka-angka lain terkait indikator ekonomi makro bisa saja tidak memiliki pengaruh kepada kesejahteraan subyektif masyarakat.

Bisa saja, unsur subjective well-being seperti yang digambarkan oleh Easterlin tidak mengalami kenaikan ketika pertumbuhan ekonomi meningkat. Oleh karena itu, angka-angka indikator ekonomi yang diumbar oleh pemerintah ternyata tidak diterjemahkan ke dalam peningkatan kebahagiaan dan kepuasan masyarakat.

Pada titik ini, terlihat bahwa ada jarak antara angka-angka yang dikemukakan oleh pemerintah dengan kondisi riil dari subjective well-being masyarakat. Hal ini bisa saja menggambarkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan capaian-capaian lainnya tidak sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat.

Dalam konteks tersebut, unsur ketidakrasionalan yang diungkapkan oleh Fareed Zakaria tampak muncul pada sebagian elemen masyarakat. Memang, unsur ini tidak bisa dihitung atau diukur secara kuantitatif dan dalam kadar tertentu dapat dianggap sebagai sesuatu yang subyektif. Akan tetapi, bukan berarti unsur tidak rasional ini bisa dipandang sebagai sesuatu yang remeh.

Dari ekonomi kecemasan menjadi ekonomi belarasa (2)

“Banyak peristiwa perubahan sosial yang bersifat negatif dan merusak masyarakat justru memberi keuntungan yang amat besar terhadap PDB..”

Pernyataan paradoks itu ditulis oleh seorang ahli ekonomi-politik yang bermarkas di Kampus Pretoria Afrika Selatan, Lorenzo Fioramonti, di dalam buku terjemahannya “Produk/Problem Domestik Bruto.”

Walaupun jauh hari seorang ekonom terkemuka peraih IZA Prize in Labor Economics, Richard Easterlin, di dalam makalahnya yang terbit di jurnal ekonomi tahun 1997 berjudul “Happiness and Economic Performance”, telah menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang sebelumnya dibayangkan paling-tidak melalui gambaran logika sederhana: jika diagram ekonomi (PDB) meningkat, maka kebahagiaan turut naik karena asumsinya kebutuhan masyarakat (konsumsi) dapat tercukupi dan dengan demikian iklim ekonomi memungkinkan akumulasi kapital – di dalam realitanya tidaklah demikian.

Menurut Easterlin – melalui apa yang dijelaskan Fioramonti, hal itu disebabkan karena angka pertumbuhan ekonomi ternyata sama sekali bukanlah jaminan untuk mengukur tingkat kebahagiaan masyarakat. Logika itulah yang di dalam perbincangan tentang ekonomi dijuluki sebagai “Paradoks Easterlin.”

Di Indonesia paradoks ini akan terlihat jelas manakala kita membandingkan naiknya PDB yang juga diikuti dengan naiknya suhu kecemasan publik, situasi sosial yang tidak stabil, dan seterusnya.

Lalu bagaimana solusinya?
Idealnya, ketika pertumbuhan ekonomi naik, maka kebahagiaan dan kepuasan masyarakat juga ikut naik. Akan tetapi, hal tersebut nyatanya tidak selalu terjadi. Fenomena ini digambarkan oleh Richard Easterlin melalui pandangannya, yang dikenal sebagai Easterlin paradox atau paradoks Easterlin.

Sriram Balasubramaniam menulis tentang Bhutan yang merintis pemahaman akan kesejahteraan melampaui sekadar GDP dan growth:

There has been considerable criticism of the general reliance on GDP as an indicator of growth and development. One strand of criticism focuses on the inability of GDP to capture the subjective well-being or happiness of a populace. This column examines new growth models, paying particular attention to Bhutan, which has pursued gross national happiness, rather than GDP, since the 1970s. It finds evidence of the Easterlin paradox in Bhutan, and draws out lessons for macroeconomic growth models.”(5)

Dan kini pandangan tersebut menjadi landasan dari konsep “well-being budget” antara lain diterapkan di New Zealand sejak tahun lalu (2019). Lihat (6)

Selain itu, hal-hal sederhana seperti tata kota yang baik, lingkungan yang bebas banjir, jalanan yang aman dan relatif lancar, dan jejaring antar lingkungan juga berpengaruh pada “rasa sejahtera” dalam masyarakat. Lihat artikel dari arsitek terkenal Christopher Alexander: The City is not a Tree.(7)

Alexander antara lain menulis : (7)

It is more and more widely recognized today that there is some essential ingredient missing from artificial cities. When compared with ancient cities that have acquired the patina of life, our modern attempts to create cities artificially are, from a human point of view, entirely unsuccessful.  Both the tree and the semilattice are ways of thinking about how a large collection of many small systems goes to make up a large and complex system. More generally, they are both names for structures of sets.”




Penutup

Menurut Fioramonti, kenaikan PDB kerap kali tidak sejalan dengan kenaikan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Merujuk pada pendapat tersebut, kenaikan PDB boleh jadi ternyata tidak bisa sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat.

Idealnya, ketika pertumbuhan ekonomi naik, maka kebahagiaan dan kepuasan masyarakat juga ikut naik. Akan tetapi, hal tersebut nyatanya tidak selalu terjadi. Fenomena ini digambarkan oleh Richard Easterlin melalui pandangannya, yang dikenal sebagai Easterlin paradox atau paradoks Easterlin. Dan kini pandangan tersebut menjadi landasan dari konsep “well-being budget” yang antara lain diterapkan di New Zealand sejak tahun lalu (2019). Lihat (6)

Istilah “well-being budget” memang belum begitu populer di negeri ini, namun kalau menilik terma “untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat” dalam pasal 33 UUD 1945, hal well-being tersebut tampaknya memang merupakan cita-cita para pendiri bangsa ini. (istilah filsafatnya kira-kira adalah: summum bonum.)

Salah satu implikasi dari pendekatan “well-being” dalam pendidikan, misalnya dapat dicermati di beberapa maju. Misalnya, kabarnya di beberapa negara di Skandinavia, para pendidik menerapkan jam sarapan pagi untuk semua siswa TK dan SD. Makan bersama, walaupun sekadar semangkuk bubur, memberikan nilai kebersamaan dan semangat berbagi, yang nilai tertanam jauh melampaui pendidikan budi pekerti yang dicekokkan sampai jam 17 sore, misalnya. Itupun kalau kita mengingat salah satu definisi pendidikan: “Pendidikan adalah apa yang tersimpan dalam hati, setelah semua pelajaran telah terlupakan.”

Tentunya tulisan singkat ini tidak berpretensi memberi jawaban lengkap atas problem GDP, growth maupun kesejahteraan, namun setidaknya dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan bagi para pengambil kebijakan.
Bagaimana dengan negeri ini? Sudah waktunyakah kita juga mulai menerapkan konsep “beyond GDP” berupa well-being budget?





Versi 1.0: 29 januari 2020, pk. 10:36

Versi 1.1: 29 januari 2020, pk. 20:21

VC





Bacaan lanjutan:

(1) R. Sasmita. Angka dan rasa kesejahteraan. url: https://kolom.tempo.co/read/1172537/angka-dan-rasa-kesejahteraan/full&view=ok

(2) Rio Belvage. Paradoks Easterlin dan Ekonomi Kecemasan di Indonesia. url:  https://geotimes.co.id/opini/paradoks-easterlin-dan-ekonomi-kecemasan-di-indonesia/ ; lihat juga: https://hbr.org/2012/01/the-economics-of-well-being

(3) https://suparman-journey.blogspot.com/2007/10/teori-ekonomi-tentang-nilai-paradoks.html

(4) url: https://www.selasar.com/jurnal/32815/Paradoks-Pertumbuhan-dan-Pembangunan

(5) New Zealand’s well-being budget. Url: https://voxeu.org/article/wellbeing-measurements-easterlin-s-paradox-and-new-growth-models

(6) Wellbeing budget: transforming the economy. Url: https://budget.govt.nz/budget/2019/wellbeing/transforming-economy/index.htm

(7) Christopher Alexander. A city is not a tree. Url: http://en.bp.ntu.edu.tw/wp-content/uploads/2011/12/06-Alexander-A-city-is-not-a-tree.pdf

Comments

Popular posts from this blog

Waste to energy: dari Pegadaian ke PLTSa

PostScript: tanggapan seorang Ibu

Berkah di balik masalah: kisah Post-It Notes