PostScript: tanggapan seorang Ibu

PostScript: tanggapan seorang Ibu

Berikut ini adalah tanggapan seorang ibu yang lahir dan besar di Jakarta dan tinggal di dekat kali Ciliwung terhadap artikel saya terdahulu tentang penanggulangan banjir di DKI Jakarta. Dan kebetulan beliau adalah salah satu mahasiswa di kelas Pengantar Logika yang pernah saya ampu.
Maksud saya dengan memuat respons pembaca ini hanyalah agar para pengambil kebijakan dapat belajar mendengar isi hati masyarakat yang kerap menjadi korban banjir DKI selama bertahun-tahun dalam hidup mereka.
Isi tanggapan beliau:

Shalom  pak Victor,
Jawaban  saya  ini  bukan  sebagai  orang  yang  Pro  atau  kontra  dengan  konsep  naturalisasi  sungai  yang  dijalankan  Gubernur  DKI  Anis B  tapi  lebih  sebagai  penduduk  DKI,  yang  sangat mendambakan  Jakarta  bebas  banjir  atau  setidaknya  dapat  meminimalkan  titik-titik  banjir  yang  ada  di  Jakarta.
Konsep menanggulangi  banjir  baik  dengan  konsep  Normalisasi  Sungai  atau  Konsep  Naturalisasi  sungai  sama-sama bagusnya,  dan  pasti  sama-sama  punya  kelebihan  dan  kekurangannya.
Sebagai  penduduk  DKI,  yang  lahir  di  Jakarta, tinggal  dengan  jarak  sekitar  500  m  dari  S  Ciliwung,  tahu  dan  paham  akan  lingkungan  keadaan  seputar  sungai  Ciliwung  terutama  yang  ada  di  Jakarta  Timur.
Komentar  saya  untuk  Bapak  Gubernur Anies B  dan  Pergub 31  Tahun  2019  yang  diterbitkan  2  April  2019

1.      Pergub 31, tahun  2019  yang  dibuat  Anis pada  tgl. 2  April 2019  lebih  ditujukan  sebagai  realisasi  Janji  Kampanye  yang  dengan  begitu  ngotot  menolak  konsep  normalisasi  sungai  dan  memilih  konsep  naturalisasi  sungai.
Karena  sejak  Anies  menjadi  Gubernur  program  normalisasi  sungai  terhenti  tak  dilanjutkan  dan  program  naturalisasi  sungai  yang  dijanjikan  dan  telah  diterbitkan  pergub nya  pun  sampai  saat  ini   belum  dijalankan  oleh  Bapak  gubernur  sehingga  dapat  disimpulkan  konsep  naturalisasi  gagasan  Anies   hanya  sebagai  program  yang  dijual  saat  kampanye  dan  tidak  sungguh-sungguh  untuk  dilaksanakan.
Terbukti  selama  2  tahun  ini  program  normalisasi  sungai  terhenti,  dan  program  naturalisasi  sungai pun  tak  ada  yang  dijalankan, sampai  banjir  datang  di  Jan’20  baru  semuanya  terbuka.

2.      Dengan  ngototnya  gubernur  Anies  untuk  menjalankan  program  penanggulangan  banjir  di  Jakarta  dengan  konsep  Naturalisasi  sungai  sesuai  Pergub  yang  diterbitkan  menunjukkan  kalau  gubernur Anies  itu  tidak  paham  akan  kondisi  dan  lingkungan  sungai-sungai  yang  ada  di  Jakarta, 

Sulit  untuk  mendapatkan  atau  tak  mungkin  untuk  mendapatkan  RTH (Ruang  Terbuka  Hijau)  100  meter  disisi  kanan dan  kiri  sungai,  terutama  di  Jakarta  Timur  dengan  penduduknya  yang  padat.

 Apalagi  janji  Anies  selalu  tak  ada  penggusuran  hanya  menggeser  penduduk  yang  tinggal  di  bantaran  sungai,  kemudian  akan  menaturalisasi   sungai  itu  sangat  mustahil.

 
3.      Dalam  kunjungan  Anies  kepada  korban  banjir  di  Jak-Timur  tgl. 2 Januari’20,  gubernur  Anies  memberi  komentar  yang  menunjukkan  kalau  pak  Gubernur  itu 

pikirannya  banyak  di kuasai  akan  konsep-konsep  dan  teori-teori  sehingga  ketika  menghadapi  realita  lapangan  tak  dapat  memberi  jawaban  dan  solusi  yang  tepat  sesuai  keadaan  lapangan  yang  sedang  terjadi (pengamatan  saya).

 

Contoh :

Di saat  kunjungan  di  korban  banjir  di  Jakarta  Timur  itu  pak  Gubernur  membuat  pernyataan  yang  masuk  di  seluruh  surat  kabar  dan  medsos, yang  menunjukkan  akan  ketidak  pemahamannya  tentang  kondisi  sungai  saat  banjir  datang,

Pernyataan  Beliau  adalah  dengan  menunjuk  ke  Sungai  Ciliwung  yang  ada  di   Kampung  Pulo  jakarta  timur  yang  telah  di  normalisasi  di era  gubernur  sebelumnya, Ia  menunjukkan  kepada  wartawan  yang  mengelilinginya  dengan  mengatakan  ternyata  sungai  yang  telah  dinormalisasi   daerahnya  kena  banjir  juga.

Ya  jelas  dengan  debit  air  yang  tinggi  air  itu  meluap  dan  pasti  daerahnya  kena  banjir  tapi  yang  harus  dia  lihat  dan  pelajari  adalah  keadaan  sungai  yang  telah  dinormalisasi  dan  dampak  dari  banjir untuk  daerah  dan  penduduk  yang  tinggal  disekitar  sungai  yang  telah  dinormalisasi  sangat  berbeda dengan  sebelum  dinormalisasi  jadi  tidak  asbun.

Sungai  yang  telah  dinormalisasi  sekalipun  debit  air  tinggi  dan  meluap  ke  daerah  sekitarnya,  air  cepat  mengalir  dan  tak  ada  endapan  air  yang  berhari-hari  seperti  sebelum  di  normalisasi.

Pengungsi  di sekitar  sungai  yang  telah  dinormalisasi  hanya  satu  malam  mereka  mengungsi  kalau  sebelumnya  sampai  butuh  waktu  1  minggu  tidur  ditenda-tenda  karna  air  yang  lama  surut.
Jumlah  pengungsi  hanya  beberapa  KK,  karna  penduduk  bantaran  sungai  sudah  di  relokasi  ke  rusun,

4.      Komentar  saya  ini  hanya  penilaian  dan  pendapat  pribadi  tak  ada  kajian,  tapi  saya  telah  membaca  tulisan  bapak  dengan  berita  terkait hal tersebut:  sangat  bagus,  detail  dan  banyak  memberi  pelajaran.
Tulisan  Bapak  tentang  Perspektif  Jalan  Tengah,  Polarisasi  pendapat  antara  yang  pro  naturalisasi  dan  pro  normalisasi,  dengan  mengusulkan  terma  baru  untuk  nilai  tengah.
Oleh  Peneliti  Pusat  Studi  Perkotaan Universitas  Trisakti, Nirwono  juga memberikan  solusi  jalan  tengah  sebagaimana  yang  telah  bapak  tulis,  yaitu  agar  gbernur  Anies untuk  jangka  panjang   untuk  melakukan  penataan  kali  dengan  konsep  normalisasi,  naturalisasi  atau  perpaduan  antara normalisasi  dan  naturalisasi  dissuaikan  dengan  kondisi  dan  lingkungan  sungai  yang  ada.
Usul  Bapak  Nirwono  sesuai  dengan yang  bapak  istilahkan  dengan  konsep  “Norturalisasi”
Usul  dan  Pendapat Bapak  “sangat  tepat”  karena  kondisi  dan  lingkungan  sungai-sungai  yang  ada  di  Jakarta  tak  memungkinkan  dan  tak  dapat  diwujudkan  dengan  memaksa  memakai  satu  konsep  yang  baku,  karenanya  perlu  jalan  tengah  perpaduan  dari  kedua  konsep.

              Sekian,  trimakasih  Tuhan  Memberkati (nama tidak dicantumkan)

tgl: 8/1/2020

Comments

Popular posts from this blog

Waste to energy: dari Pegadaian ke PLTSa

Berkah di balik masalah: kisah Post-It Notes