Seputar perkembangan riset energi fusi

Seputar perkembangan riset energi fusi

Oleh V. Christianto, pengamat energi terbarukan

Ada sebagian orang yang menduga bahwa Jepang agak tertinggal dalam riset  energi fusi.
Bahwa mereka meningkatkan safety measures dari reaktor-reaktor mereka pasca Fukushima, memang betul. Namun bahkan dari 54 PLTN yang ada, baru 10 reaktor yang telah memenuhi syarat keamanan yang ditingkatkan tersebut.
Lalu bagaimana dengan riset energi fusi di sana? Benarkah kemajuannya juga melambat di sana?
Pada hemat penulis, kurang tepat juga jika dibilang negeri tersebut tertinggal dalam riset fusi. Mungkin dalam riset fusi termal ya.

Tapi pada beberapa dekade terakhir ini mulai marak yang disebut riset fusi benda termampatkan (eng: "condensed matter fusion").

Penulis dulu sempat berkenalan Prof. Akito Takahashi dari Technova yang  menekuni riset fusi benda termampatkan tsb.(1)

Logika sederhananya, pada suhu sangat rendah , materi menjadi sangat mampat dan cenderung membentuk boson (groupy)...dan dalam kondisi groupy tersebut justru terbuka peluang untuk terjadi reaksi fusi.*

Penulis dan rekan fisikawan dari Ukraine dan seorang sahabat fisikawati dari Indonesia pernah menerbitkan kajian kami tentang hal ini dari sudut pandang teori elektromagnetika klasik. Sudah diterbitkan di jurnal JCMNS, 2017.(3)

Memang hal ini merupakan ranah fisika teori namun sudah sering diuji di laboratorium.

Bahkan sekitar dua tahun lalu, ada peneliti fusi dari Jerman (Lutz Jaitner) yang mengajukan teori baru fusi, yang disebut "plasmoid termampatkan." (condensed plasmoid)

Menilik dari terma tersebut, plasmoid berasal dari riset fusi panas dan condensed dari fusi benda termampatkan. Jadi secara ringkas boleh dikatakan, teori baru tersebut agaknya merupakan semacam sintesis dari teori fusi panas dan fusi benda termampatkan. Lihat misalnya (2).

Tentu menjadi menarik untuk menantikan kelanjutan gagasan yang secara konseptual inovatif tersebut.

Penutup
Demikian sekelumit ulasan mengenai perkembangan riset energi fusi terkini, terutama di negara-negara maju, yang sudah berkembang jauh melampaui kategori standar: fusi thermal dan fusi magnetik (lihat gambar)
Pada hemat penulis, energi fusi layak dicermati khususnya perkembangan pesat akhir-akhir ini, terutama karena relatif lebih bersih dan aman dari aspek polusi radiasi. Tidak seperti reaktor nuklir fisi yang merupakan sains di balik rencana PLTN yang sedang diwacanakan oleh sementara teknokrat.
Seperti kita ketahui, bencana seperti Three Miles Island, Chornobyl, Fukushima dan bencana reaktor fisi lainnya, bahwa dampak buruk radiasi nuklir itu sangat merusak. Dan sekalipun tidak ada bencana reaktor, limbah radioaktifnya sampai saat ini belum ada solusinya.
Perkembangan tersebut kiranya menjadi pertimbangan bagi para pengambil kebijakan.
Bagaimana dengan negeri ini?

Versi 1.0: 24 january 2020, pk. 21:29
Versi 1.1: 26 january 2020, pk. 19:37
VC

Note:
*Mekanisme ini sangat berbeda dengan proses fusi termal yang melibatkan faktor Gamow, guna memprediksi peluang terjadinya "quantum tunneling"

Bacaan lanjutan:
(1) Akito Takahashi. Background of condensed cluster fusion. Proc. JCF15. Url:https://www.researchgate.net/publication/311613703_Background_for_Condensed_Cluster_Fusion
(2) Lutz Jainer. ICCF22. Url: https://e-catworld.com/2019/09/16/iccf22-condensed-plasmoids-lutz-jaitner/
(3) V. Christianto, V. Krasnoholovets & Y. Umniyati. JCMNS (2017), url: https://www.academia.edu/32223232/JOURNAL_OF_CONDENSED_MATTER_NUCLEAR_SCIENCE_Vol._22_Feb._2017

Comments

Popular posts from this blog

Waste to energy: dari Pegadaian ke PLTSa

PostScript: tanggapan seorang Ibu

Berkah di balik masalah: kisah Post-It Notes